Rupiah Melemah, Ancaman Harga Naik hingga PHK Mulai Mengintai Masyarakat Desa

Lipsus – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran di berbagai kalangan. Meski Presiden RI Prabowo Subianto menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak karena tidak menggunakan dolar secara langsung, sejumlah pengamat ekonomi justru menilai efek pelemahan rupiah bisa merembet hingga ke kehidupan masyarakat bawah.

Dikutip dari CNN Indonesia, pelemahan rupiah tetap berpengaruh terhadap masyarakat desa karena banyak kebutuhan pokok dan bahan produksi di Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika dolar menguat, biaya impor ikut naik dan pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di pasaran.

Pengamat pasar modal Hans Kwee mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya di sektor industri manufaktur yang selama ini sangat bergantung pada bahan baku impor. Ia menyebut sekitar 70 persen bahan baku industri manufaktur Indonesia berasal dari luar negeri. Jika rupiah terus melemah, perusahaan diperkirakan akan menaikkan harga produk atau melakukan efisiensi tenaga kerja untuk menekan kerugian.

Selain ancaman PHK, pelemahan rupiah juga dikhawatirkan memperbesar angka kemiskinan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pemerintah perlu lebih waspada karena dampak depresiasi rupiah dapat langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, komunikasi pemerintah terkait kondisi ekonomi harus mampu menjaga kepercayaan pasar dan ketenangan publik.

Kondisi rupiah sendiri terus mengalami tekanan. Pada perdagangan Senin (18/5), nilai tukar rupiah dilaporkan sempat menyentuh level Rp17.630 per dolar AS dan bahkan bergerak ke kisaran Rp17.671 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sejumlah ekonom menilai dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan, tetapi juga warga desa. Harga pupuk, pakan ternak, kedelai, obat-obatan, hingga barang elektronik diprediksi ikut naik karena bergantung pada bahan impor atau komponen luar negeri. Kenaikan biaya produksi tersebut dikhawatirkan menekan pendapatan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro di daerah.

Di tengah situasi tersebut, DPR RI juga mulai memberi perhatian serius terhadap pelemahan rupiah dengan memanggil Bank Indonesia guna membahas kondisi ekonomi nasional dan stabilitas nilai tukar.

c/Jawa pos – CNN Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial